Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2011

Adab Berbahasa

“bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut”
~Plato~

Secara sederhana, banyak orang sering mengartikan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan maksud dan tujuan atau juga sekumpulan kata yang digunakan sebagai penjelasan atas keinginan. Saya sering kali mempertanyakan masalah penggunaan bahasa, terutama bahasa Indonesia. Beberapa orang yang mengatakan kalau bahasa Indonesia itu jauh lebih rumit atau dalam istilah yang lebih moderen disebut “ribet”. Menurut mereka, bahasa Indonesia terkesan diperhalus dan cenderung tidak tepat sasaran (muter-muter) sehingga memiliki banyak nilai ambiguitas di dalam pemahamannya. Sebagai contoh, mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai pembanding. Misalnya penyebutan “bulan" dalam bahasa Inggris yang menyebut “bulan” yang ada di langit dengan moon dan “bulan” yang ada di kalender disebut dengan month, sedangkan dalam bahasa Indonesia, tidak ada perbedaan penyebutan antara “bulan” di langit dengan “bulan” yang ada di kalender. 
 
Mungkin ada benarnya kalau sebagian besar orang ini berpendapat demikian karena jika saya perhatikan, tentu akan muncul kebingungan dalam penggunaan kaedah bahasa Indonesia itu sendiri. Bagaimana kita harus menjawab ketika seseorang bertanya pada kita, “ini bulan apa ya?” melalui telepon (yang berarti kita tidak melihat apakah orang tersebut sedang melihat langit atau kalender), apakah kita harus menjawab Januari, Febuari? Atau kita harus menjawab purnama?

Tapi yang cukup mengganggu buat saya adalah adanya krisis penggunaan bahasa Indonesia dalam cara membaca dan penyebutannya (saya sering menyebutnya dengan “membunyikan huruf”). Coba saja Anda perhatikan bagaimana diri Anda menyebut merk (orang bule menyebutnya dengan brand atau signboard), apakah Anda menyebutnya sesuai dengan tulisannya, merk? Atau anda menyebutnya dengan merek? Saya lebih suka menyebutnya dengan merk karena jika saya menyebutnya dengan merek maka akan muncul persepsi bahwa saya sedang membicarakan WTS (mohon maaf, Wanita Tuna Susila).
Mungkin sebagian orang akan menyebut saya terlalu kritis dan sebagian lainnya akan mengkerutkan dahinya sambil memicingkan mata (penyebutan dalam istilah moderennya, krik-krik) karena dalam anggapan mereka dan kebanyakan orang, hal ini bukanlah sesuatu yang perlu ditanggapi secara berlebihan (yang dalam penyebutan lebih moderennya, sepele). 

“kan yang penting, orang tau maksudnya! Masa kayak gitu aja mesti ribet? Anak SD juga tau kali!”, begitu yang seringnya orang bilang tiap saya tanyakan mengenai hal ini. Dan saya teringat pada salah satu keponakan saya yang masih duduk di kelas 4 SD, bertanya dengan polosnya (maaf, maksudnya bukan polos “tanpa busana”) kepada Ibu saya tentang berita di koran yang baru saja di bacanya. “Nek.. Nek, kok “Bapak” ini ditangkap polisi? Kan dia baik mau “nidurin” anaknya?” dan sontak Ibu saya langsung mengambil koran yang sedang di baca keponakan saya itu, sambil mengalihkan perhatiannnya dengan pertanyaan seputar pelajaran sekolahnya (dan saya menggelengkan kepala sambil ketawa begitu membaca berita di koran tersebut, Akibat Meniduri Anak Kandungnya, Seorang Bapak Dihukum Lima Tahun Penjara).

Entah apa karena perkembangan zaman yang telah banyak menyentuh kemajuan teknologi (dimana komunikasi cenderung lebih diaktualisasikan lewat kecanggihan mesin atau “robot”) sehingga penanaman nilai serta kaedah dari bahasa itu sendiri mulai pudar secara perlahan. Dan ketika peradaban moderen telah benar-benar mengenyampingkan kaedah bahasa maka mungkin akan semakin muncul kebingungan dan ambiguitas dalam adab berkomunikasi antar manusia. 

 

Selasa, 15 November 2011

Peradaban yang Beradab ?


Kemarin salah satu sahabat saya men-share salah satu tulisannya yang berisi pandangan dan pemikirannya kepada saya. Jujur, saya merasa beruntung karena ternyata sahabat saya itu belum pernah membagi tulisannya itu dengan orang lain disamping isi tulisannya yang mampu menggelitik isi pikiran setiap orang yang membacanya, termasuk juga saya.

Dalam tulisannya itu, dia berbicara mengenai “adab hidup” yang ada di tatanan masyarakat kita sekarang ini. Mulai dari pergeseran nilai-nilai yang dianggap sudah kadaluarsa padahal kalau dikaji lebih mendalam, nilai-nilai tersebut jauh lebih manusiawi dibandingkan dengan nilai-nilai yang berkembang dalam peradaban moderen seperti sekarang ini. Dalam tulisannya itu, saya mengutip sebuah paragraf yang menurut saya cukup memprovokasi keseluruhan isi kepala saya,

“Menurut saya kalau akhirnya manusia bisa menemukan bahan bakar gas dari kentutnya sendiri, maka pada mulanya akan muncul banyak milyuner baru, kemudian para milyuner tersebut harus rela berbagi dan menurunkan derajatnya menjadi jutawan bersama dengan para tukang kentut yang akhirnya sadar kalau kentut mereka laku dijual...” ~Adab Hidup, Sandi Wiradinata~



Dari kutipannya ini, saya mencoba memahami beberapa hal mendasar tentang peradaban dan manusia itu sendiri. Sejak Nabi Adam turun ke dunia sampai sekarang ini, begitu banyak proses kehidupan yang berkembang, mulai dari perkembangbiakan atau evolusi manusia, proses pola pikir dan konsep-konsep kehidupan, hingga penemuan berupa realisasi dari ide dan konsep itu sendiri. Tentunya masih saya ingat bagaimana kontroversi yang muncul ketika Charles Darwin mengatakan bahwa kita (manusia) itu berawal dari primata dan yang saya tahu dan yakin dengan pasti, Tuhan menciptakan Adam itu sebagai manusia, bukan monyet.

Saya pernah, mungkin sering coba mengkaji konsep-konsep tentang tatanan kehidupan yang berkembang pada peradaban moderen sekarang ini. Hampir semua aspek dan elemen dari kehidupan masyarakat yang ada sekarang ini bersentuhan dengan apa yang disebut dengan teknologi atau saya sering menyebutnya dengan zaman serba-canggih. Lihat saja yang terjadi di lingkungan sekitar kita dimana internet sudah menjadi komoditi utama dalam segala aspek, contohnya di lingkungan pendidikan. Cukup dengan search engine atau mesin pencari (istilah kerennya googling) anak-anak sekolah dasar bisa mempelajari apa itu rumus phytagoras yang berarti beberapa tahun ke depan kebutuhan akan tenaga pengajar akan semakin berkurang, yang dengan kata lain angka penggangguran di Indonesia terus bertambah. Hebat bukan?

Mungkin terlalu rumit jika hanya berdasarkan isi pikiran saya yang bisa jadi salah ini karena pada kenyataannya, saya termasuk di dalam peradaban itu sendiri, begitu juga Anda semua. Mungkin perlu adanya nilai, ide dan konsep-konsep yang dapat mengembalikan peradaban pada sisi manusiawi dari manusia yang termasuk di dalam peradaban itu sendiri.

Ya. Semoga pandangan saya ini tidaklah terlalu menimbulkan kekhawatiran atau memprovokasi Anda secara berlebihan, tapi jika Anda bisa melihat dan membaca kekhawatiran saya ini secara bijaksana maka saya rasa akan ada rasa kemanusiaan diantara kita sebagai manusia.







Jumat, 11 November 2011

Seberapa Sering Sih Kita Absen Dari Kehidupan?


Hari ini supervisor GA (General Affair) kantor gak masuk dan itu berarti satu hari kerja tanpa penerapan aturan. Gak ada yang nanya si A kemana? Si B kenapa absen? dan pertanyaan serta bla bla bla lainnya yang secara garis besar cuma perihal absen atau ketidakhadiran. Senang? Pastilah, mengingat gak ada orang yang biasanya nanya, “tadi absennya telat ya? Makanya, jangan begadang..bla bla bla”. Tapi jujur ada yang tiba-tiba jadi ganjalan di pikiran saya, kenapa ya absensi atau ketidakhadiran itu bisa menjadi sesuatu yang sangat crusial? Sambil menikmati secangkir kopi hitam yang baru saja diseduh, saya coba memahami perihal absensi ini.

Terkadang saya mikir, ketika saya benar-benar absen untuk masuk kerja, pasti HRD ataupun GA kantor tempat saya kerja sibuk mencari tahu keberadaan dan keadaan saya. Kenapa saya absen? Apa saya sakit? Kalau saya sakit, bagaimana keadaanya? Dirawat atau hanya istirahat di rumah? Dan bermacam-macam pertanyaan penuh rasa empati tapi kesannya curigaan. Sikap seperti ini seakan-akan menunjukan bahwa mereka sangat mengharapkan kehadiran kita dan gak mau kalau kita pergi sedangkan keadaan memang mengharuskan kita absen, entah itu karena kita sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik atau karena kurang mendapat apresiasi dari tempat kita bekerja sekarang ini. Cukup aneh gak sih?

Kita sering banget mengeluh soal si bos yang tidak pernah memberikan apresisai yang setimpal atas loyalitas kita yang tidak pernah absen untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan tapi dari persepsi saya yang dangkal ini, saya mencoba mengembangkan pemikiran lebih luas. Pada kenyataannya, kita sering kali harus absen dari berbagai dinamika dan realita kehidupan yang sedang kita jalani. Coba aja kita ingat, seberapa sering kita absen untuk sekedar menemani Ibu minum teh di sore hari hanya karena ingin refreshing di hari libur kerja? Seberapa sering kita absen untuk mendengar cerita anak-anak kita sewaktu di sekolah tadi hanya karena ada lemburan yang harus kita kerjakan? Seberapa sering kita absen untuk mendengar keluh kesah istri yang ingin bermanja-manja kangen? dan kita menanggapinya hanya dengan, “sudah ya, Ayah cape”.

Mungkin seperti terlalu mendramatisir keadaan atau pemikiran, tapi coba kita pikirkan lagi baik-baik perihal absensi ini. Coba kita lihat dan bandingkan, seberapa banyak absen yang kita buat dalam hidup ini? Seberapa sering kita absen dalam pekerjaan kita yang bernama “kehidupan”?






Rabu, 02 November 2011

Kenapa sih mereka pilih bercerai?

“Menikah itu wajib hukumnya, kalau sudah sanggup”, itulah pernyataan pernah yang saya dapat dari beberapa orang terdekat saya yang telah menjalani kehidupan pernikahan. Mereka banyak memberi saya pandangan secara “audio” maupun “visual” mengenai apa yang disebut dengan pernikahan. Menurut mereka, pada akhirnya setiap orang pada akhirnya akan menikah, mau itu dengan orang yang mereka inginkan atau pun dengan orang pilihan orang tuanya. Tapi yang agak susah untuk saya pahami adalah ketika saya bertanya, “kalau emang pada setiap orang akhirnya harus menikah, kenapa banyak banget pasangan menikah yang berakhir dengan perceraian?” lalu mereka menjawab sekenanya, “ya berarti gak jodoh” dan mendadak dahi saya penuh dengan kerut.



Saya “seruput” secangkir kopi hitam sambil memikirkan persoalan pernikahan yang membuat kepala saya ini jadi terasa “penuh dengan lebah”. Kalau saya lihat pada kenyataan yang ada, setiap hari ada saja pasangan yang saling mengikatkan diri dalam sebuah pernikahan dan berakhir dengan kata cerai. Dimulai dari dua orang yang saling mencintai dan ingin bersumpah sehidup-semati, hidup bersama baik dalam keadaan senang maupun susah dan mereka menikah. Pada awal pernikahan semua tampak berjalan dengan sangat mulus maka terpikir untuk membuat beberapa rencana, memiliki momongan, menabung untuk cicilan rumah, dan bla bla bla. Pada tahun-tahun berikutnya beberapa rencana sudah terlaksana, anak yang lucu serta rumah yang nyaman dan pelan-pelan mulai muncul percekcokan kecil, mulai dari peran suami yang mencari nafkah dan istri mengurus anak, yang mana pada masa ini ego mulai mengambil alih kesadaran mereka sebagai sepasang suami-istri dan orang tua. Sampai ke permasalahan nafkah, baik lahir maupun bathin. Suami yang mati-matian bekerja untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya sampai kehabisan waktu dan tenaga untuk memenuhi “tanggung jawab”nya sebagai suami terhadap istri, sehingga kecurigaan sang istri kalau suaminya diam-diam memiliki “tanggungan” lain di luar rumah.



Yang cukup menggelikan buat saya adalah kebanyakan dari permasalahan yang muncul dalam kehidupan pernikahan itu hanyalah masalah kecil yang sering kali dibesar-besarkan hanya karena ego dari masing-masing pasangan yang akhirnya menciptakan pikiran-pikiran negatif dalam diri mereka masing-masing. Banyak sekali pertengkaran dalam pernikahan bermula dari persepsi dangkal yang justru berawal dari dalam diri masing-masing.



Seandainya setiap pasangan saling memahami kondisi dan keadaan dari pasangannya, tentunya keharmonisan dalam pernikahan akan jauh lebih mudah untuk diwujudkan. Bukankah akan lebih memberikan kebaikan bagi setiap pasangan yang sudah atau mau menikah? Ya, meskipun pastinya hal ini akan membawa keburukan bagi para pengacara perceraian.



Bagaimana menurut Anda semua setelah membaca tulisan saya yang sepertinya “gak penting” ini? Ada yang punya pendapat yang lebih “gak penting” dari pendapat saya ini? 

  

Sabtu, 17 September 2011

Bersyukur??

Bersyukur. Banyak orang mempertanyakan arti dari kata “bersyukur” ini. Sebagian besar beranggapan bahwa bersyukur itu sebagai rasa bahagia yang diungkapkan dengan cara berterima kasih atas kebahagiaan yang mereka dapatkan. Sebagian lagi berpendapat kalau bersyukur itu adalah rasa bahagia yang direalisasikan dengan cara menikmati semua hal yang telah diberikan oleh Tuhan maupun seseorang. Mereka ini berpendapat bahwa rasa syukur itu baru dapat dirasakan di saat mereka telah berhasil mencapai hasil dari kerja keras mereka selama ini. Kebanyakan dari mereka berpikir kalau untuk bisa bersyukur, mereka harus terlebih dahulu bahagia dan untuk mendapatkan kebahagiaan, mereka harus bekerja sangat keras dan mengorbankan banyak hal dalam hidup mereka.

Saya pernah membaca cerita yang ditulis oleh Ajahn Brahm dalam salah satu bukunya, Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya yang menurut saya bisa menggambarkan tentang apa itu “bersyukur”.



Di sebuah desa nelayan Meksiko yang tenteram, seorang Amerika yang sedang berlibur mengamati seorang nelayan setempat yang baru saja pulang melaut pada pagi hari. Si Amerika adalah seorang profesor sukses di sebuah perguruan tinggi bergengsi di Amerika Serikat dan ia tidak tahan untuk memberikan sedikit “kuliah” gratis kepada si nelayan Meksiko.

“Hai!”, sapa si Amerika. “Mengapa pagi-pagi sudah pulang dari melaut?”

“Karena saya sudah mendapat cukup ikan, Senor”, jawab si nelayan Meksiko itu ramah. “Cukup untuk memberi makan keluarga saya dan sedikit kelebihannya untuk dijual. Dan sekarang saya akan makan siang bersama istri dan, setelah tidur siang sejenak, saya akan bermain-main bersama anak-anak saya. Lalu setelah makan malam, saya akan pergi ke kedai, menengguk sedikit tequila dan bermain gitar bersama teman-teman saya. Itu cukup untuk saya, Senor.”

“Dengarkan saya, kawan”, ujar si profesor bisnis Amerika. “Jika kamu tetap melaut sampai larut sore, dengan mudah kamu akan mendapatkan tangkapan dua kali lipat. Kamu dapat menjual kelebihannya, menabung uangnya, dan dalam waktu enam bulan atau sembilan bulan, kamu akan mampu membeli perahu yang lebih bagus dan lebih besar dan menggaji beberapa awak. Kemudian kamu akan mampu menangkap ikan empat kali lebih banyak. Pikirkanlah berapa banyak tambahan uang yang kamu dapatkan! Dalam satu atau dua tahun, kamu akan punya modal untuk membeli perahu dan menggaji beberapa awak lagi. Jika kamu mengikuti perencanaan bisnis ini, dalam waktu enam atau tujuh tahun kamu akan bangga menjadi pemilik sebuah armada penangkapan ikan yang besar. Lalu kamu sebaikna memindahkan kantor pusatmu ke Mexico City atau bahkan ke L.A. Setelah tiga atau empat tahun di L.A, perusahaanmu bisa go public dan menjadikanmu CEO dengan penghasilan serta hak pembagian saham yang istimewa. Dalam beberapa tahun, kamu akan menjadi multi-jutawan! Dijamin! Saya ini profesor terkenal dari sebuah sekolah bisnis di Amerika. Saya tahu soal-soal beginian!”

Si nelayan Meksiko mendengarkan dengan khusyuk apa yang dikatakan oleh profesor Amerika itu dengan menggebu-gebu. Ketika si profesor Amerika selesai bicara, si Meksiko bertanya, “Tetapi, Senor Profesor, apa yang bisa saya lakukan dengan jutaan dolar itu?”

Yang mengejutkan, si profesor Amerika belum memikirkan rencana bisnisnya sejauh itu. Jadi, dengan segera dia mereka-reka apa yang bisa dilakukan dengan jutaan dolarnya.

“Amigo! Dengan semua duit itu, kamu bisa pensiun. Ya! Pensiun seumur hidup. Kamu bisa membeli sebuah vila kecil di sebuah desa nelayan yang indah seperti ini, dan membeli sebuah perahu kecil untuk pergi memancing pada pagi hari. Setiap hari kamu bisa makan siang bersama istrimu dan tidur siang sejenak setelahnya, tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun. Pada sore hari kamu dapat melewatkan saat-saat berkualitas bersama anak-anakmu. Dan setelah makan malam, kamu bisa bermain gitar bersama teman-temanmu, menggak tequila. Ya, dengan semua itu kamu bisa pensiun dan hidup senang!”

“Tetapi, Senor Profesor, kan sekarang ini saya sudah begitu?”, tanya si nelayan Meksiko kebingungan.


Nah, menurut Anda, ap itu “bersyukur” ?

Rabu, 17 Agustus 2011

Menyakitkan Bukan Berarti Harus Dilupakan...

“How happy is the blameless vestal's lot! The world forgetting, by the world forgot. Eternal sunshine of the spotless mind! Each prayer accepted, and each wish resigned”
~Alexander Pop, “Eternal Sunshine Of The Spotless Mind”~

Apa pernah Anda berusaha untuk melupakan sesuatu atau seseorang dalam kehidupan Anda? Atau mungkin Anda berusaha untuk menghapus bagian-bagian tertentu dari ingatan Anda? Pada kenyataannya, cukup banyak orang yang berusaha untuk melakukannya dan mungkin kita adalah salah satu dari mereka. 

Jika kita berbicara tentang ingatan atau memori, maka secara tidak langsung kita berbicara tentang aspek kognitif atau sistem kerja otak. Sewaktu saya masih bergelut di lingkungan perguruan tinggi, saya mempelajari tentang apa yang disebut dengan memori. Ingatan atau memori adalah suatu fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi. Hal ini banyak dikaji dalam pemahaman psikologi kognitif serta ilmu saraf. Dalam pemahaman ilmu psikologi, memori terbagi atas dua bagian, memori jangka panjang (Long-Term Memory) dan memori jangka pendek (Short-Term Memory).

Memori jangka pendek biasanya tersimpan lebih lama di dalam otak. Memori ini biasanya berisi segala sesuatu yang kita sadari pada saat ini, mulai dari nomor telepon  atau alamat rumah orang-orang terdekat kita (orang tua, sahabat, pacar). Sedangkan memori jangka panjang berisi semua informasi yang berada di alam bawah sadar kita dan akan berguna untuk masa mendatang. Biasanya memori ini diisi oleh informasi yang sewaktu-waktu bisa kita panggil (recall), misalnya raut muka, kebiasaan, perilaku-perilaku dari orang-orang dan kejadian di masa lalu, mulai dari mantan pacar, teman sekolah, sampai urusan CLBK, “Cinta Lama Belom Kelar”.
Ketika kita berusaha untuk menghapus bagian-bagian tertentu dari memori kita, sebenarnya kita cenderung hanya ingin melupakan serangkaian informasi yang tidak menyenangkan kita. Biasanya bagian ini berkisar tentang romatika percintaan, mulai dari putus cinta, perselingkuhan, sampai urusan “ditikam” sahabat.
Pada dasarnya, apapun namanya, memori merupakan satu rangkaian yang tidak terpisahkan, baik jangka panjang maupun jangka pendek karena jika diibaratkan Artificial Intelligence, otak adalah seperangkat PC atau komputer. Saat di dalam komputer Anda terdapat virus yang menghinggapi salah satu file Anda, maka Anda akan melakukan scanning atau healing dan ketika Anda melakukannya sudah dipastikan file tersebut juga akan ikut menghilang, yang berarti Anda kehilangan salah satu data penting dalam komputer Anda (karena Anda hanya akan menyimpan data-data yang penting di dalam komputer Anda).
Jika kita merujuk pada analogi tersebut maka Anda akan memahami bahwa data atau “file” yang ada dalam otak merupakan hal-hal penting bagi Anda. Istilah “virus” di sini bukanlah dalam arti yang sebenarnya. Maksud virus di sini adalah ketika Anda merasa bahwa pengalaman atau “file” yang Anda miliki adalah hal yang tidak menyenangkan Anda. Padahal kalau kita mau belajar untuk “berdamai dengan diri sendiri”, maka tidak akan ada hal yang benar-benar menyakiti kita, karena kita selalu bisa mengambil hikmah atau nilai dari pengalaman hidup Anda.

Bukan maksud saya untuk menjadi yang “paling tahu”, tapi coba kita pikir bersama-sama, ketika kita berusaha melupakan sesuatu atau sesorang yang pernah membuat kita tersakiti, secara tidak sadar kita juga melupakan kalau sesuatu atau seseorang itu juga pernah membuat kita merasa senang. Mungkin pacar atau mantan-mantan pacar Anda telah melakukan banyak kesalahan, namun bukan berarti Anda menjadi lupa kalau banyak juga hal yang telah mereka lakukan untuk membuat Anda merasa senang. Akan lebih bijak jika satu kesalahan seseorang tidak menutupi beberapa kebaikan yang telah dilakukan oleh seseorang itu bagi Anda.   

Jadi, seberapapun menyakitkannya sesuatu yang pernah dilakukan sesorang pada Anda tidak akan membuat Anda harus melupakannya karena bagaimanapun masih ada hal-hal yang pernah mereka lakukan dan itu membuat Anda merasa senang dan bahagia. Sebab bisa jadi ketika Anda berusaha melupakannya, maka hal-hal yang menyenangkan dalam hidup Anda juga akan ikut menghilang.

Minggu, 08 Mei 2011

Mulailah dari yang terkecil dan termudah..


" Lakukan perubahan pada dirimu sesuai dengan apa yang kamu inginkan, maka dunia akan   menemukanmu " 
~ Mahatma Ghandi ~

Kalau kita perhatikan, sejak memasuki era modernisasi seperti sekarang ini, keadaan dan kondisi peradaban kita sebagai manusia semakin tidak terkendali. Siklus kehidupan yang terus berputar begitu cepat telah menghasilkan begitu banyak perkembangan, terutama bagi peradaban manusia. Coba kita perhatikan, setiap menitnya selalu saja lahir penemuan-penemuan baru di bidang teknologi dan informasi, mulai dari handphone, communicator, Black Berry, iPhone, hingga iPad. Belum lagi media on-line di internet, mulai dari Facebook, Yahoo Messenger, Twitter, sampai webcam, serta Windows Talk Messenger (yang belakangan baru saya ketahui, ternyata lebih sering digunakan bagi mereka yang suka meng”eksploitasi” bagian-bagian intim dari tubuh mereka).

Sampai saat sekarang ini, mungkin sudah teramat sering kita menemukan peradaban manusia yang menurut saya justru semakin jauh dari kaedah kemanusiaan itu sendiri. Bayangkan saja, di zaman sekarang, anak kelas 5 SD sudah sangat akrab dengan media internet dan bahkan teramat mahir membuka situs-situs “17 th keatas”. Semua ilmu pengetahuan bisa didapatkan dengan mudah, cukup melalui “mesin pencari” bernama google dan dengan seketika tenaga kerja guru di sekolah dasar tidaklah lagi diperlukan (yang berarti, kelak angka pengangguran di negeri ini semakin meningkat). 


Mungkin bukan saya saja yang merasakan kejanggalan ini. Banyak juga saya temukan gerakan-gerakan masyarakat yang mencoba concern terhadap masalah ini, mereka mencoba melakukan sebuah revolusi, reformasi, atau apapun istilah inteleknya, dengan tujuan akan adanya  suatu perbaikan yang positif. Suatu perbaikan yang dilakukan melalui sebuah tindakan, bernama PERUBAHAN. Tapi sayangnya, kebanyakan dari gerakan ini juga masih belum efektif karena terkesan tidak tepat sasaran (sekali lagi, mungkin ini sudah jadi sistem dalam strata sosial dan budaya kita, terlalu banyak “kepentingan” ).

Kebanyakan dari gerakan ini selalu menyuarakan perubahan-perubahan besar dengan suara yang lantang. Tentang kemanusiaan, misi penyelamatan lingkungan, rasa senasib dan sepenanggungan, konsep-konsep moral serta gaya hidup “sehat rohani”, tapi masih melakukan perubahan hanya untuk kepentingan pihak-pihak tertentu yang selama ini sudah membantu “menyokong” gerakan-gerakan masyarakat ini.

Di sini saya bukan ingin menjadi munafik atau “sok yang paling benar”, tapi apa tidak sebaiknya sebuah perubahan itu dimulai dari hal-hal yang kecil serta mudah untuk dilakukan. Ketika kita berbicara tentang kemanusiaan dan rasa senasib-sepenanggungan, berbondong-bondong kita mengirimkan bantuan ke pelosok-pelosok dunia tapi “membuang muka” saat bertemu pengemis di jembatan penyeberangan yang biasa kita lewati saat berangkat kerja. Kita bicara tentang penyelamatan lingkungan, “menanam seribu pohon” tapi sayangnya hanya menanam, urusan merawatnya tetap kita serahkan ke ahlinya, mereka yang memakai seragam orange dan helm kuning dari Dinas Pekerjaan Umum. Mereka yang selalu mengedepankan kecerdasan moral dan rohani, “membangun masyarakat yang madani” dan tanpa sadar, wajah mereka tersiar di TV, Koran, serta media-media informasi lainnya saat sedang mengeksplorasi “fantasi liar”nya ketika berada di ruang terhormat, tempat biasa para dewan memutuskan suatu kebijakan tentang negeri ini.

Bagi saya, perubahan pasti datang. Suka-tidak suka, cepat atau lambat. Kita hanya perlu menindak lanjutinya secara bijak dan tidak memberikan pengaruh buruk bagi kita sendiri maupun orang lain. Perubahan adalah suatu proses yang seharusnya berdampak positif, maka bagi saya lebih baik melakukannya dari hal yang terkecil dan mudah. Seperti ada ungkapan  yang kalau tidak salah pernah diucapkan oleh seorang Bob Marley,

“ Jika kamu ingin membuat dunia menjadi gelap, kamu tidak perlu memborong semua kaleng cat berwarna hitam. Cukup kamu pakai kacamata hitammu, dan seisi dunia ini akan terlihat gelap bagimu..”       


Minggu, 17 April 2011

Menjadi Bahagia

“Saya percaya bahwa tujuan utama hidup kita adalah mencari kebahagian. Apakah kita percaya agama atau tidak, apakah kita menganut agama ini atau itu, kita semua mencari sesuatu yang lebih baik dalam hidup kita. Maka, saya kira, gerak utama hidup kita adalah mencari kebahagian.”
-Dalai Lama ( Art Of happiness)~


Setiap manusia yang hidup itu pasti “bergerak”, sekecil apaun pergerakannya, tanpa terkecuali. “Bergerak” berarti melakukan suatu perbuatan atau tindakan, dan ini sudah jadi satu pedoman baku yang tidak bisa dibantah. Jadi pada dasarnya, setiap orang pasti melakukan dan mengerjakan sesuatu dalam hidupnya.

Mungkin banyak hal yang kita lakukan selama menjalani  hidup, baik yang sudah, akan, atau yang belum sempat dilakukan. Tapi apa pernah kita bertanya pada diri sendiri tentang apa saja yang sudah kita lakukan dalam hidup ini, mengapa kita melakukan semua hal itu, atau kenapa kita melakukannya?

Mungkin sebenarnya kita sering mempertanyakan hal ini pada diri sendiri, hanya saja kita tidak sadar atau sengaja mengacuhkannya. Di saat-saat seperti ini, kita sering membuka lagi video rekaman atau foto-foto kenangan di masa lalu yang masih kita simpan. Kita seperti berjalan mundur, mengurutkan serangkaian cerita yang tersimpan di tiap lembarnya. Mulai dari momen yang menyenangkan dimana kita begitu gembira, penuh tawa, sampai dengan momen yang menyakitkan dimana kita begitu rapuh, sedih, penuh tangis dan kekecewaan. Ini semua membuat kita bertanya-tanya, apakah kita bahagia melewati ini semua? Atau sudahkan kita membahagiakan mereka, orang-orang yang berarti dalam hidup kita?

Ya, bahagia. Mungkin kata ini yang selalu kita pertanyakan. Apa itu bahagia? Seperti apa rasanya? Atau apakah kebahagiaan itu memang ada? Kalaupun ada, dimana kita harus menemukannya?
Gak dipungkiri, terkadang kita melakukan sesuatu yang tidak membahagiakan dalam hidup kita. Kadang kita sering melakukan sesuatu yang membuat kita merasa bahagia tapi tanpa sadar, kita seakan menyakiti orang lain. Kadang kita juga berusaha membahagiakan orang-orang yang kita sayangi, tanpa kita sadari ternyata kita memiliki rasa pamrih sehingga kita merasa sia-sia, padahal kita sudah mengorbankan kebahagiaan kita untuk orang lain.
Bukan ingin me”legal”kan, tapi sebagai manusia biasa, perasaan seperti itu cukup wajar untuk kita alami. Sebagai manusia biasa terkadang kita lupa mengenali diri kita sendiri, bahwa kita memiliki hasrat dan keinginan yang terkadang menguasai akal sehat  dan hati kecil kita. Terkadang kita tidak sadar bahwa sebenarnya kebahagiaan itu sudah ada dalam diri kita, seperti saat kita mengingat waktu-waktu yang telah kita habiskan bersama orang-orang yang berarti dalam hidup kita, gak peduli seberapa lama atau sampai kapan kita bisa bersama mereka. Kita akan sadar dan yakin bahwa mereka pasti sangat bahagia bisa memiliki waktu bersama kita dan dengan sendirinya kita akan merasa bahagia karena kehadiran kita telah memberikan sesuatu yang sangat berarti dalam hidup mereka.

Pastinya teramat sangat sulit untuk melakukannya, karena bagaimanapun kebahagaian adalah suatu perasaan yang tidak bisa dirumuskan sebegitu mudah untuk bisa kita mengerti.

Bukan ingin menggurui, tapi saya berpikir, sebenarnya menjadi bahagia itu semudah kita merasakannya. Ketika saya tahu bahwa mereka, orang-orang yang memiliki arti penting dalam hidup saya merasa bahagia, maka saya juga harus berbahagia, karena setidaknya saya tidak melihat mereka dalam keadaan yang sedih dan kesakitan.

Sekali lagi maaf kalau terkesan terlalu bijak. Saya hanya ingin sedikit berbagi, karena saya juga hanya seorang manusia biasa yang sampai saat ini pun saya masih berusaha keras untuk memahami dan menemukan kebahagiaan itu, yang mungkin sebenarnya sudah saya temukan.
Untuk anda semua, semoga kita bisa terus bahagia. Seandainya anda belum menemukannya, mari coba kita temukan kebahagiaan kita sama-sama. Karena anda gak sendiri, ada kita, manusia biasa yang juga ingin merasakan bahagia.

Good luck everybody… :)             
  





Minggu, 10 April 2011

Apa Sih Cinta Itu ?

Piglet: “How do you spell LOVE? ”, Winnie The Pooh: “You don’t spell it. You, feel it.”
- A.A. Milne –

Apa sih CINTA itu?
Mungkin hampir seisi dunia mempertanyakan hal ini, dari yang masih belia sampai dewasa bahkan sampai yang tua sekalipun masih mencari apa arti dari cinta.
Menurut kajian bahasa, cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Kalo kita melihat konteks filosofi, cinta itu merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan sayang. Ada banyak definisi tentang cinta yang telah menjadi pedoman dalam kehidupan kita. Ada yang berpandapat bahwa cinta adalah aksi/kegiatan aktif yang manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.   

Ada banyak pemahaman manusia dalam mengartikan cinta,
Ada yang beranggapan CINTA adalah interaksi antar manusia yang berdasarkan perasaan ingin saling memberi, memaafkan, menjaga, dan saling melindungi.
Ada juga yang mengatakan, CINTA itu perasaan yang timbul dimana adanya keinginan untuk saling mengerti dan memahami. Cinta  merupakan anugerah terindah dari tuhan karena melalui cinta kita dapat merasakan keajaiban akan kehidupan mulai dari bahagia,sedih,sakit,menderita dll.
Atau ada yang beranggapan bahwa, CINTA adalah sesuatu yang suci, anugerah Tuhan dan sering tidak rasional. Cinta dipenuhi nuansa memaklumi dan memaafkan. Kesabaran, kesetiaan, pengertian, pemberian dan pengorbanan akan mendatangkan/menyuburkan cinta, sementara penyelewengan, egoisme, kikir dan kekasaran akan menghilangkan rasa cinta.
CINTA adalah perasaan suka-menyukai karena sesuatu dalam diri orang lain yang membuat kita tertarik hati dan berkomitmen. Cinta lebih banyak mengandalkan keadaan seseorang tersebut dalam berinteraksi dengan kita. Lain kata, cinta itu bersifat pemberian yang pamrih.

Pemahaman-pemahaman inilah yang sampai sekarang telah menjadi pedoman manusia dalam mejalankan kehidupan percintaannya, meski terkadang pemahaman ini tidaklah cukup bagi mereka untuk memahami arti cinta itu sendiri. Terbukti, masih banyak manusia yang membudayakan perceraian, selingkuh, hubungan tanpa status, one night stand, open relationship dengan berbagai alasan yang menurut saya cukup aneh. Mulai dari rasa bosan dan jenuh, merasa sudah tidak menemukan kecocokan lagi dengan pasangannya, atau alasan yang  lebih  menggelikan seperti pasangan kita yang terlalu baik sama kita.
Saya sering banget memikirkan alasan-alasan tersebut, apa semua itu benar adanya? Misalnya kita merasa bosan dengan pasangan kita. Bukannya rasa bosan itu wajar ya? Setiap manusia pasti pernah merasakan bosan tapi bukan berarti kita harus membuang perasaan kita sama pasangan kita kan? Atau saat kita merasa tidak menemukan ketidakcocokan lagi. Bukankah kita dan pasangan kita adalah dua orang berbeda yang pada dasarnya tidak memiliki kecocokan? Dan yang cukup aneh, pasangan kita terlalu baik sama kita. Bukankah harusnya kita bersyukur karena berarti pasangan kita selalu bisa menerima keadaan kita yang “tidak baik”?, dan  bukannya  kebanyakan orang mencari yang terbaik ya?

Jadi sebenarnya apa sih arti CINTA itu, kok masih banyak orang yang salah mengartikannya sehingga mereka masih melakukan hal-hal seperti itu?

Bukan ingin menggurui, tapi Cuma ingin berbagi aja (jadi maaf kalo terkesan seperti itu :D). Buat saya CINTA itu tidak bisa diartikan dalam bentuk yang baku atau empirik. CINTA itu memiliki pengertiannya sendiri, terutama bagi orang yang merasakan dan menjalaninya. CINTA itu tidak memerlukan alasan, “ saya mencintai dia karena dia begitu, atau karena dia begini..” karena, CINTA itu bukan mencari tapi menemukan. Karena, “CINTA itu bukan ketika saya ingin mencari seseorang yang mau menjalani hidup bersama, tapi ketika saya menemukan seseorang yang tanpa kehadirannya, saya tidak lagi merasa hidup.

Bagi saya, “CINTA adalah saat saya menemukan seseorang yang tanpa kehadirannya, tidak akan ada secangkir kopi hitam berisi doa yang menemani saya mengejar mimpi di pagi hari sebelum saya berangkat bekerja..”

Bagaimana dengan anda? Apa arti CINTA buat anda?
        
   

Sabtu, 04 Desember 2010

Cuma 21 gram...

Ada yang tahu gak kalo ternyata roh atau dalam istilah bulenya spririt itu ternyata cuma seberat 21 gram?, begitu yang isi salah satu arikel majalah kedokteran yang saya baca semalam. Menurut penelitian para ahli dan dokter-dokter ternama di dunia, ketika kita meninggal nanti bobot dari jasad kita menyusut sebanyak 21 gram..dari hasil penelitian itu banyak spekulasi-spekulasi yang berkembang, misalnya kehidupan alam Barzah atau alam ruh (dimana setiap dari kita yang memiliki ruh dan kelak kita mati berarti ruh kita telah terpisah dari tubuh kita dan pergi menuju Sang Khalik), yang berarti jumlah bobot yang berkurang itu adalah ruh kita yang telah meninggalkan jasad kita. Kalo udah begitu, coba kita berpikir “rata-rata manusia sekarang bertahan sampai umur 60an, kira-kira selama kita ngejalanin hidup sepanjang 60 tahun sepadan gak sama sesuatu yang hilang dari kita yang ternyata Cuma seberat 21 gram?..(Mode “Kritis”:ON)

Saya sering banget memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar saya, mulai dari yang tua, muda, laki-laki, perempuan, bahkan sampai yang androgini juga gak luput dari perhatian saya. Kalo saya perhatikan, kebanyakan dari mereka sangat mencintai segala sesuatu yang berbau “duniawi” (bukan karena mereka hidup di dunia, melainkan karena mereka lupa sama kehidupan setelah mereka semua meninggalkan dunia). Coba aja kita perhatikan masing-masing diri kita, selalu saja mengejar sesuatu yang terkadang kita sendiri suka gak tahu apa hal itu layak kita kejar atau gak.., pengen kaya tapi gak mau kerja, bicara soal intelegensi tapi cuma “sarjana roti”, hang-out sana-sini biar eksis tapi cuma seliweran di kelab-kelab malam sambil menikmati sebotol Johnny Walker, dan kebiasaan-kebiasaan gak penting lainnya. Ada juga yang cukup kompleks dan sulit dipahami tapi sering banget dilakukan para sosialita, affair dengan rekan kantor, kecanduan pesona panti pijat++, gaya hidup fagout sampai eksistensi shemale.

Yang cukup jarang ditemui namun sedang mewabah, orang-orang yang sibuk mencari sosok Tuhan dalam kehidupan nyata sampai-sampai mereka lupa menafkahi anak-istrinya, membahagiakan Ibu-Bapaknya, atau berbuat kebajikan pada orang lain yang padahal mereka akan menemukan eksistensi Tuhan jika mereka tidak melupakan itu semua. Atau yang paling parah dari hal ini adalah menggali sampai dalam suatu syariat tapi mengenyampingkan hakekat.

Memang aneh kalo saya memikirkan itu semua hanya berdasarkan nilai-nilai subyektif semata karena suka atau tidak, saya bukan Tuhan, Nabi, ataupun hakim yang bisa menyalahkan serta membenarkan terlebih lagi keadaan ini sudah lama berlangsung dan mungkin hanya sedikit orang yang merasakannya. Tapi kalo boleh saya sedikit bersuara (Mode “Kritis”:OFF, Mode “lebay”:ON) “coba kita mikir bareng-bareng mengenai persoalan (yang mungkin gak penting) ini, apa aja sih yang udah kita lakukan sampai dengan umur kita saat ini? Mengingat pada akhirnya hanya seberat 21 gram dari tubuh kita yang akan memberikan report kepada Sang Khalik..cuma 21 gram yang kalo diperkirakan cuma seukuran sebatang coklat Silverqueen atau satu bungkus kecil coklat M&m’s yang sering banget kita beli Circle K atau Alfamart dengan harga sepuluh ribuan..

Kamis, 28 Oktober 2010

Peradaban dan Kegilaan

"Seseorang dikatakan gila ketika ia menolak kegilaan itu bersemayam di dalam dirinya sendiri" (Michael Foucalt: Madness And Civilitation)






Pernah gak ketika kita perhatikan keadaan lingkungan sosial kita, tiba tiba kita merasa bahwa saat ini dunia yang kita pijak semakin kacau dan semakin lepas kendali? atau kita merasa kalau semua penduduk bumi yang bernama manusia semakin gila?

Saya sering banget merasakan hal itu, coba kita perhatikan  peradaban mahluk yang bernama manusia sampai dengan saat ini..cukup memprihatinkan. Di saat era modernisasi mulai memasuki sebuah babak baru yang disebut globalisasi, justru peradaban kita sebagai manusia semakin jauh dari norma dan aturan-aturan sosial. Hal ini cukup membingungkan karena dalam pemahamannya, istilah peradaban sering digunakan sebagai pencapaian manusia dalam memakmurkan dirinya baik dalam konteks norma sosial maupun budaya sehingga menjadi lebih unggul dibandingkan manusia yang lainnya. Tapi kalau kita lihat yang terjadi sekarang ini kebanyakan apa yang telah kita capai justru semakin menjauhkan kita dari segala yang bersifat normatif atau dengan kata lain "manusia yang gak manusiawi".

Peradaban kita sekarang ini seperti sebuah kubangan lumpur yang besar dan kotor, penuh dengan intrik dan isu-isu primitif.,mulai dari Yahudi, kekuasaan, teroris, perdagangan manusia, ilegal loging, uang, sex, HIV, narkoba, undang-undang, pencabulan, skandal, nikah siri, poligami, gempa tsunami, sampai dengan masalah-masalah klise..,banjir, macet, kemiskinan, pendidikan...
Apa memang peradaban mahluk bernama manusia seperti kita ini sudah memasuki sebuah waham dan kegilaan? karena yang saya lihat kebanyakan dari mereka "menolak untuk sadar" dan cenderung menyangkal atas idelisme-idelisme gila yang mereka realisasikan dalam kehidupan nyata. Bagi mereka ini semua merupakan tuntutan dari kehidupan yang mau tidak mau harus mereka jalani demi sebuah "kemakmuran" itu sendiri tanpa mereka sadari hal itu telah melahirkan kembali ideologi bernama "kanibalisme" yang telah melairkan jenis-jenis baru dari manusia yang "abmoral".


Saya pribadi tidak tahu pasti apakah saya juga termasuk salah satu dari mereka, namun saya terus mencoba berpikir waras dengan cara "berdamai dengan kegilaan-kegilaan" yang tersembunyi dalam setiap lekuk otak dan "secangkir kopi hitam" saya karena sampai dengan saat ini hanya itu cara terjitu bagi saya untuk terus menjadi waras ditengah-tengah peradaban manusia yang terus memuja kegilaan sebagai suatu kewajaran.   
   

Sabtu, 23 Oktober 2010

Kempurnaan = hasrat + nafsu..

Ada gak sih manusia yang sempurna?..., pertanyaan ini sering kali muncul ketika kita melakukan sebuah kesalahan atau kekeliruan dalam menjalani kehidupan sehingga kita merasa tidak sempurna. Saya sering memperhatikan orang-orang di sekitar saya yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan kesempurnaan, mulai dari orang yang setiap hari selepas jam kerja langsung menghabiskan waktu di pusat-pusat kebugaran demi mendapatkan bentuk badan yang sempurna sampai dengan orang-orang yang langsung menghabiskan gaji pertamanya di pusat-pusat perbelanjaan dan kecantikan demi menjaga penampilan agar selalu terlihat sempurna..tapi lucunya ketika itu semua telah mereka jalani secara maksimal, mereka merasa belum juga mendapatkan kesempurnaan yang mereka cari-cari selama ini dan jujur saja hal sekecil ini telah menjadi sebuah pertanyaan besar di dalam kepala saya. Melihat mereka, saya menemukan sesuatu yang sangat ganjil.., bukankah jam malam mereka sebaiknya digunakan untuk segera beristirahat supaya besok ketika di kantor mereka tidak mengantuk karena semalam jam tidur mereka habis di tempat gym?, bukankah sebaiknya gaji pertama mereka digunakan untuk membeli sedikit hadiah kepada orang tua mereka sendiri?

Apa pernah mereka merasa sedikit bersyukur atas apa yang telah mereka miliki? apakah tidak sebaiknya mereka sisihkan sedikit uang dari gaji pertama mereka untuk membantu keluarga jauh mereka yang sedang kesusahan? Atau pernahkah mereka berpikir meskipun badan mereka tidak terlalu "berbidang" tapi mereka masih memiliki  keluarga, istri atau pacar serta teman-teman yang selalu menerima mereka apa adanya? 

Beberapa orang bijak mengatakan bahwa ,"kesempurnaan adalah ketika kita melihat dan menerima sebuah ketidak sempurnaan secara baik" atau sebagian dari mereka mengatakan, "no body perfect..", buat saya kesempurnaan cuma segelintir hasrat dan nafsu yang yang harus selalu terpuaskan..,gak peduli apakah kita mendapatkan kepuasan itu atau tidak yang jelas kita harus terus melampiaskannya.
 

Jumat, 17 September 2010

1979..

Beberapa hari yang lalu saya baru saja merapihkan tumpukan koleksi album musik di kamar yang sudah sangat berdebu. Sambil membersihkan, saya coba memutar beberapa lagu yang lama yang sudah sangat jarang saya dengarkan..,dan saya langsung memutar tembang "1979" milik Smashing Pumpkins. Saya seperti merasakan sebuah "ambience" yang sangat unik.., seperti berada di suatu negeri 'antah-berantah' pada tahun 1979 yang penuh dengan sekumpulan permasalahan peradaban manusia..."Shakedown 1979, cool kids never have the time..On a live wire right up off the street..You and I should meet...Junebug skipping like a stone..With the headlights pointed at the dawn...We were sure we'd never see an end to it all...And I don't even care to shake these zipper blues..And we don't know..Just where our bones will rest..To dust I guess..Forgotten and absorbed into the earth below...", situasi dimana banyak orang yang memiliki keresahan dan kegelisahan tentang masa depan kehidupan umat manusia yang penuh dengan intrik, kepalsuan, morfin, anak jalanan, dan ketidak pedulian antar sesama manusia.

Dan lucunya, keadaan ini tak jauh berbeda dengan realita yang ada sekarang ini.., manusia saling acuh, saling melupakan, dan bahkan saling membunuh untuk sekedar melanjutkan proses peradaban. Lingkungan kumuh dan anal-anak kecil yang terlilit "kabel-kabel sistem" dari pemerintahan, anak-anak muda yang asik menyerap "sari pati" narkoktika, dan sekian banyak pendobrakan aturan-aturan sakral dari Tuhan.

Saya berpikir, apakah ini hanya sebagian kecil dari apa yang disebut sebagai 'human error' ?...."They're not sure just what we have in store..Morphine city slippin dues down to see..That we don't even care as restless as we are..We feel the pull in the land of a thousand guilts..". 

Bukan ingin mnggurui, hanya saja saya ingin beragi..karena cukup mengerikan memang kalau  ternyata hal ini terjadi  hanya karena  kita semua yang tidak pernah perduli dengan keadaan kita sebagai manusia yang terus berkubang dan kemudian menjadi tulang-tulang berdebu yang diserap ke dalam tanah yang dipenuhi dengan  berjuta kesalahan..

Selasa, 31 Agustus 2010

manusia VS kanibalisme...

Manusia itu sangat rumit..,namun sangat menarik untuk saya pelajari dan pahami. Manusia merupakan sekumpulan permasalahan yang kompleks dan terkadang sulit untuk dimengerti. Saya sering memperhatikan perilaku-perilaku manusia yang sering kali dianggap sebagai suatu "kegilaan" karena bertentangan dengan etika peradaban manusia itu sendiri. Abaraham Maslow menyatakan, bahwa manusia terbentuk melalui sebuah proses pembelajaran lingkungan, dimana proses pembelajarannya berlangsung secara dinamis dan cenderung progresif. Sebuah perilaku akan menjadi budaya yang lalu beradaptasi berdasarkan moralitas dan etika kehidupan yang ada pada saat perilaku tersebut dilakukan atau dengan kata lain, manusia adalah sebuah bentuk estetika "tertinggi" yang terjadi akibat meleburnya nilai-nilai religi, budaya, moral, dan logika dan kemudian membentuk suatu sistem yang sering kita sebut sebagai peradaban.

Di era sekarang ini, dimana "budaya pop" telah menjadi suatu mainstream yang paling digandrungi oleh kebanyakan manusia telah menciptakan sebuah keadaan yang sangat jauh dari nilai-nilai manusia itu sendiri. Di zaman sekarang ini, saya melihat sebuah peradaban yang melihat manusia hanya sebagai "mesin yang bernyawa" dan sangat miskin akan esensi kehidupan. Manusia mengalami pergeseran nilai-nilai sehingga manusia di zaman sangat memungkinkan untuk memakan manusia lain, atau saya menyebutnya sebagai "budaya kanibalisme".

Bukan maksud saya untuk menggurui atau sok suci, karena saya benci menjadi munafik namun saya mempelajari ini semua sebagai suatu regresi ideologi sikap otak dari kebanyakan manusia yang sudah sangat kanibal dan jauh dari perikemanusiaan. Saya melihat bahwa kegilaan sudah begitu melekat pada evolusi manusia yang mulai jauh berseberangan dengan hakekat manusia sebagai "khalifah" di dunia...