Selasa, 31 Agustus 2010

Ketika mata memandang....

Saya ini termasuk orang yang suka memperhatikan wajah orang lain, terutama sorot mata mereka. Dari setiap sorot mata mereka, terkadang saya menemukan sesuatu yang menarik dari diri mereka. Sesuatu yang bisa jadi mereka sendiri tidak menyadarinya, sesuatu yang begitu besar dan dahsyat namun terkadang terpendam begitu dalam sehingga mereka sulit untuk dapat merasakannya.

“Mata merupakan jendela hati”, begitu kata para pujangga dan orang-orang bijak terdahulu ketika mereka membahas perihal “isi” manusia. Dari mata turun ke hati, begitu kata pemuja cinta ketika mereka merasakan cinta datang menghampiri diri mereka. Begitu banyak pemikiran-pemikiran yang menyentuh esensi dan nilai kemanusiaan ketika kita membahas salah satu bagian dari wajah kita ini. Bayangkan saja betapa ajaibnya, dengan bermodal dua bola kecil berwarna putih dimana di dalam setiap bolanya memiliki satu kornea berwarna hitam dan disetiap korneanya terdapat satu retina kecil yang menempel pada rongga diantara dahi dan pelipis saja kita bisa mengenali, mengerti, dan memahami seluruh isi dunia. Mata juga merupakan “kamera ajaib” bagi diri kita karena sekian lama kita hidup begitu banyak kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa bersejarah yang telah kita lewati, mulai dari yang manis sampai dengan yang pahit, mulai dari yang menyenangkan sampai dengan yang menyakitkan namun hanya sedikit saja yang terlupakan, sebagian besar terekam dengan sangat baik dalam oleh mata kita.

Bagi saya, mata merupakan cerminan emosi, mimpi, dan keinginan yang paling hebat dari dalam diri seseorang. Sebagai anak laki-laki yang cukup dekat dengan sosok Ibu, saya sering kali menangkap dan merasakan sesuatu yang lain ketika ia menatap saya, seakan-akan saya adalah sekumpulan doa atas mimpi dan harapan terbesar dalam hidupnya. Sebuah tatapan penuh dengan cinta yang membuat saya selalu merasa jauh lebih hidup setiap harinya. Atau tatapan mata mantan kekasih saya terdahulu yang seolah-olah menemukan kebahagian terbesarnya ketika diam-diam dia menatap saya. Selain itu ada juga tatapan penuh kekecewaan seseorang yang sangat menyakiti hati saya ketika dia mengetahui bahwa saya adalah seorang mantan pecandu, juga tatapan penuh rasa kesakitan yang sangat hebat sesaat sebelum maut menjemput nenek saya.

Dari seluruh tatapan mata yang pernah saya dapatkan, selain mata Ibu saya, ada satu mata yang begitu hebat menyentuh perasaan dan memberikan kekuatan tersendiri dalam diri saya. Tatapan mata yang membuat saya merasa besar namun dengan seketika membuat saya merasa kecil. Tatapan mata yang membuat saya merasa menjadi orang yang paling berani, namun seketika menjadi sangat pengecut, hingga saya menyadari bahwa diri saya hanyalah manusia biasa yang belajar mengenai ketulusan. Sebuah tatapan dari keindahan mata seseorang yang mengajarkan saya untuk selalu menjadi yang terbaik dan terus melakukan hal-hal baik…dan saya bersyukur, karena “Dia Yang Punya Kuasa” memberikan anugerah dengan memberikan saya kesempatan untuk bertemu dan merasakan langsung hangatnya tatapan mata dari salah satu “Karya Terbaik”-Nya…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar